SUMENEP, (WARTA ZONE) – Anggapan bahwa puasa identik dengan penurunan berat badan tidak selalu benar. Tenaga medis di RSUD dr. H. Moh. Anwar Sumenep mengingatkan, pola konsumsi yang tidak terkontrol selama Ramadan justru dapat memicu kenaikan berat badan.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam RSUD dr. H. Moh. Anwar Sumenep, dr. Sofia Nuri, Sp.PD, menjelaskan bahwa perubahan pola makan selama bulan puasa sering kali menjadi faktor utama. Waktu makan yang terbatas pada malam hari kerap membuat sebagian orang mengonsumsi makanan dalam jumlah berlebih.
“Puasa tidak otomatis menurunkan berat badan. Jika asupan kalori berlebihan saat berbuka hingga sahur, justru bisa menyebabkan kenaikan berat badan,” ujarnya. Selasa (17/3/2026).
Menurutnya, kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi gula dan lemak saat berbuka, seperti gorengan dan minuman manis, turut berkontribusi terhadap peningkatan kalori harian. Ditambah lagi, sebagian orang cenderung makan dalam porsi besar setelah seharian menahan lapar.
Kondisi tersebut, kata dia, membuat total asupan energi justru melampaui kebutuhan tubuh, sehingga berat badan berpotensi bertambah meski sedang menjalankan ibadah puasa.
Untuk itu, masyarakat diimbau tetap memperhatikan pola makan seimbang selama Ramadan. dr. Sofia menyarankan agar berbuka dilakukan secara bertahap dengan porsi yang cukup, serta mengutamakan makanan bergizi dibandingkan konsumsi berlebihan makanan tinggi kalori.
“Prinsipnya bukan hanya menahan lapar, tetapi juga mengatur pola makan. Jika seimbang, puasa bisa tetap sehat tanpa risiko kenaikan berat badan,” katanya.
Ia menambahkan, pengendalian asupan makanan serta pemilihan menu yang tepat menjadi kunci agar manfaat kesehatan dari puasa dapat dirasakan secara optimal. (*)


Comment