SUMENEP, (WARTA ZONE) – Limbah jeroan ikan yang selama ini kerap dibuang begitu saja diperkenalkan sebagai bahan baku pupuk organik cair (POC) oleh Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 46 Universitas Trunojoyo Madura (UTM) kepada kelompok tani di Desa Bungbungan, Kabupaten Sumenep.
Melalui kegiatan sosialisasi tersebut, mahasiswa mengedukasi petani tentang cara mengolah limbah perikanan menjadi pupuk organik cair menggunakan metode fermentasi sederhana. Inovasi ini diharapkan mampu mengurangi limbah sekaligus menjadi alternatif pupuk yang lebih ramah lingkungan.
Dalam kegiatan itu, peserta mendapatkan penjelasan mengenai kandungan unsur hara pada limbah jeroan ikan, tahapan pembuatan pupuk, hingga cara penggunaannya pada berbagai jenis tanaman.
Salah seorang pemateri Dwi Ayu Lestari, menjelaskan, pemanfaatan limbah organik menjadi pupuk memiliki manfaat ganda, yakni membantu mengurangi pencemaran lingkungan sekaligus mendukung kebutuhan sektor pertanian.
“Bahan bakunya mudah diperoleh dan proses pembuatannya cukup sederhana. Kami berharap petani bisa memanfaatkan limbah yang sebelumnya tidak bernilai menjadi pupuk organik yang bermanfaat untuk tanaman,” ujarnya.
Selama sosialisasi berlangsung, kelompok tani tampak antusias mengikuti materi. Berbagai pertanyaan diajukan, terutama mengenai dosis penggunaan, cara aplikasi, serta efektivitas pupuk organik cair terhadap pertumbuhan tanaman.
Salah seorang anggota kelompok tani, Sukardi, mengaku tertarik mencoba inovasi tersebut di lahan pertaniannya. “Kalau hasilnya bagus untuk tanaman, tentu kami ingin mencobanya. Kami juga ingin tahu cara penggunaannya agar manfaatnya benar-benar maksimal,” katanya.
Menurut Koordinator Desa KKN Kelompok 46 Universitas Trunojoyo Madura (UTM), Muhammad Nuril Habibi, pemanfaatan limbah jeroan ikan menjadi pupuk organik cair dapat menjadi solusi bagi masyarakat pesisir yang memiliki ketersediaan limbah perikanan cukup melimpah.
Selain mengurangi pencemaran lingkungan, inovasi tersebut juga berpotensi menekan biaya produksi pertanian karena petani dapat memproduksi pupuk secara mandiri.
Melalui program ini, Mahasiswa KKN Kelompok 46 UTM berharap masyarakat Desa Bungbungan semakin sadar akan pentingnya pengelolaan limbah berbasis potensi lokal serta terdorong menerapkan pertanian yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.
“Program ini juga menjadi bagian dari upaya pengabdian mahasiswa dalam menghadirkan inovasi tepat guna yang dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi desa melalui pemanfaatan sumber daya lokal,” terangnya. (*)


Comment