SUMENEP, (WARTA ZONE) – Potensi tanaman cabe jamu di Desa Bungbungan, Kecamatan Bluto, Kabupaten Sumenep, didorong menjadi produk herbal bernilai ekonomi melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 46 Universitas Trunojoyo Madura (UTM).
Mahasiswa KKN menggelar pelatihan pengolahan cabe jamu (Piper retrofractum Vahl) menjadi minuman herbal bubuk yang melibatkan sekitar 40 anggota PKK dan masyarakat. Kegiatan berlangsung di Balai Desa Bungbungan pada Sabtu, 11 Juli 2026.
Dalam pelatihan tersebut, peserta tidak hanya menerima materi mengenai manfaat tanaman cabe jamu, tetapi juga mempraktikkan secara langsung proses pengolahan mulai dari pemilihan bahan, pengeringan, penggilingan, pengemasan hingga teknik pemasaran produk.
Salah seorang pemateri, Nabila Meisya Zulfiah, mengatakan, cabe jamu merupakan tanaman herbal yang memiliki banyak manfaat bagi kesehatan sehingga berpotensi dikembangkan sebagai produk unggulan desa.
“Selama ini cabe jamu lebih banyak dimanfaatkan sebagai bahan obat tradisional. Melalui pelatihan ini kami ingin menunjukkan bahwa tanaman tersebut juga bisa diolah menjadi produk yang memiliki nilai jual dan membuka peluang usaha bagi masyarakat,” ujarnya.
Selain proses produksi, mahasiswa juga memberikan edukasi mengenai strategi pemasaran, termasuk pemanfaatan media digital agar produk lokal mampu menjangkau pasar yang lebih luas.
Pemateri lainnya, Zendy Herliyanto, menilai pemasaran berbasis digital menjadi peluang yang harus dimanfaatkan pelaku UMKM desa.
“Kalau dipasarkan secara digital, produk desa tidak hanya dikenal masyarakat sekitar. Peluangnya lebih besar untuk dipasarkan ke berbagai daerah sehingga dapat meningkatkan pendapatan warga,” katanya.
Selama kegiatan berlangsung, peserta tampak aktif berdiskusi. Berbagai pertanyaan disampaikan, mulai dari takaran bahan agar cita rasa tetap seimbang, manfaat kesehatan, keamanan konsumsi untuk kelompok tertentu, hingga masa simpan dan cara penyajian produk.
Salah seorang anggota PKK Desa Bungbungan, Endang, mengaku pelatihan tersebut memberikan pengetahuan baru mengenai pengolahan cabe jamu.
“Kami jadi tahu cara mengolahnya menjadi minuman bubuk yang praktis. Informasi tentang penyimpanan, masa kedaluwarsa, dan cara penyajiannya juga sangat membantu jika nanti ingin dijadikan usaha,” ungkapnya.
Koordinator Desa KKN Kelompok 46 Universitas Trunojoyo Madura (UTM), Muhammad Nuril Habibi, menjelaskan, pemanfaatan cabe jamu dipilih karena tanaman tersebut merupakan salah satu komoditas yang banyak tumbuh di Desa Bungbungan, namun selama ini belum diolah secara maksimal menjadi produk bernilai tambah.
“Melalui program ini, kami berharap masyarakat dapat mengembangkan potensi lokal menjadi produk herbal yang berkualitas, memiliki daya saing, serta mampu meningkatkan perekonomian desa melalui usaha berbasis rumah tangga,” terangnya, kepada wartazone.com.
Sebagai tindak lanjut, mahasiswa juga membantu promosi produk cabe jamu bubuk melalui platform digital. Produk dipasarkan melalui akun Shopee dan media sosial Instagram agar lebih mudah dikenal oleh konsumen.
Minuman herbal bubuk tersebut dipasarkan dengan harga Rp5.000 per kemasan sebagai langkah awal memperkenalkan produk unggulan Desa Bungbungan kepada pasar yang lebih luas. (*)


Comment