SUMENEP, (WARTA ZONE) – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Ibrahimy (UNIB) Sukorejo, Situbondo, bersama Karang Taruna Laskar Obor, SKK Migas–Kangean Energy Indonesia (KEI), serta masyarakat menggelar aksi penanaman 2.500 bibit mangrove di Desa Pagerungan Besar, Kecamatan Sapeken, Kabupaten Sumenep, dalam rangka memperingati Hari Mangrove Sedunia.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program pelestarian lingkungan pesisir yang menargetkan penanaman sebanyak 5.000 pohon mangrove di wilayah operasi produksi SKK Migas–KEI. Hingga akhir Juli 2026, sebanyak 2.500 pohon telah berhasil ditanam.
Rinciannya, sebanyak 1.500 bibit mangrove ditanam pada 8 Juli 2026 bersama Karang Taruna Laskar Obor dan para pelajar setempat. Selanjutnya, pada 25 Juli 2026 dilakukan penanaman lanjutan sebanyak 1.000 bibit yang melibatkan mahasiswa KKN Universitas Ibrahimy.
Aksi kolaboratif tersebut menjadi bentuk kepedulian terhadap kelestarian ekosistem pesisir sekaligus upaya mengurangi risiko abrasi pantai dan mendukung mitigasi perubahan iklim.
Ketua Karang Taruna Laskar Obor, Imran, mengatakan penanaman mangrove tidak sekadar menjadi kegiatan seremonial, tetapi merupakan bagian dari komitmen jangka panjang untuk menjaga kawasan pesisir agar tetap lestari.
“Kami berharap pohon-pohon yang ditanam hari ini dapat tumbuh dengan baik dan memberikan manfaat bagi masyarakat dalam jangka panjang, baik untuk menjaga garis pantai maupun mendukung kelestarian ekosistem pesisir,” ujarnya, Minggu (26/7/2026).
Sementara itu, perwakilan mahasiswa KKN Universitas Ibrahimy, Lilik Rahmawati, mengaku bangga dapat terlibat langsung dalam kegiatan tersebut. Menurutnya, pengalaman itu menjadi bentuk nyata pengabdian mahasiswa kepada masyarakat sekaligus pembelajaran mengenai pentingnya menjaga lingkungan.
“Penanaman mangrove bukan hanya tentang menanam pohon, tetapi juga menanam harapan bagi masa depan lingkungan yang lebih baik. Kegiatan ini mengajarkan kami pentingnya kolaborasi, kepedulian sosial, dan tanggung jawab bersama dalam menjaga kekayaan alam pesisir,” kata Lilik.
Ia menilai tingginya partisipasi masyarakat menunjukkan semakin meningkatnya kesadaran bersama terhadap pentingnya menjaga kelestarian lingkungan. Sinergi antara mahasiswa, pemuda Karang Taruna, pelajar, SKK Migas–KEI, dan masyarakat dinilai menjadi modal penting dalam mewujudkan program pelestarian yang berkelanjutan.
Lilik berharap seluruh bibit mangrove yang telah ditanam dapat dirawat secara bersama-sama sehingga mampu memberikan manfaat dalam jangka panjang, seperti melindungi garis pantai dari abrasi, menjadi habitat berbagai biota laut, serta mendukung kesejahteraan masyarakat pesisir.
“Semoga kegiatan ini menjadi awal lahirnya berbagai program pelestarian lingkungan lainnya sehingga Desa Pagerungan Besar dapat menjadi contoh desa pesisir yang hijau, lestari, dan berkelanjutan bagi generasi mendatang,” tuturnya.
Menurutnya, keberadaan hutan mangrove juga memiliki peran penting dalam mendukung upaya mitigasi perubahan iklim. Ekosistem mangrove mampu menyerap dan menyimpan karbon atau blue carbon dalam jumlah besar sehingga berkontribusi terhadap pengurangan emisi karbon secara berkelanjutan.
Melalui kolaborasi berbagai pihak tersebut, program penanaman mangrove di Pagerungan Besar diharapkan tidak hanya memperkuat perlindungan kawasan pesisir, tetapi juga meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan demi keberlanjutan ekosistem dan kesejahteraan generasi mendatang. (*)


Comment