Tanaman Buah Naga di Puncak Rembangan Rusak, Pemkab Jember Ganti dengan Kelengkeng

0 Komentar
Reporter : Nur Imatus Safitri
Tanaman buah di Rembangan

Foto: Kepala Dinas Tanaman Pangan Holtikultura dan Perkebunan Kabupaten Jember, Imam Sudarmaji saat menyampaikan sambutan di Expo Holtikultura.

JEMBER, (WARTA ZONE) – Semua tanaman buah naga yang ada di wilayah agrowisata puncak Rembangan Jember rusak. Pasalnya tanaman tersebut dinilai tidak produktif lagi.

Dengan demikian, Pemkab Jember mengganti tanaman buah naga itu dengan menanam kelengkeng.

Kepala Dinas Tanaman Pangan Holtikultura dan Perkebunan Kabupaten Jember, Imam Sudarmaji menuturkan, penggantian tanaman buah naga di agrowisata puncak Rembangan itu, karena usia tanaman dari buah tersebut sudah mencapai puluhan tahun.

“Usia tanaman buah naga itu sudah sekitar 20 tahun. Sudah banyak tanamannya yang rusak, sehingga tidak produktif lagi,” ucap Imam saat dikonfirmasi wartawan. Rabu, 2 Februari 2022.

Apalagi, lanjut Imam, Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari buah naga itu semakin hari mengalami penurunan.

“Bahkan, tahun 2021 lalu sudah tidak ada PAD. Maka dari itu perlu adanya pembaruan di lahan agrowisata Rembangan ini,” ungkapnya.

Pemkab Jember mencari solusi terkait penanaman di lahan agrowisata puncak Rembangan. Perlu ditanami yang lebih prospek dan menjanjikan sehingga mempunyai nilai ekonomis yang tinggi.

“Yaitu akan kami tanami buah kelengkeng di sini, yang varitasnya ditemukan oleh tim ahli dari Unej, bahwa kelengkeng Jember super. Dimana cara pembuahannya bisa diatur sesuai dengan keinginan atau target pasar. Bahkan dalam jangka waktu dua tahun saja dari proses penanaman, kelengkeng sudah bisa berbuah dengan maksimal,” sambungnya.

Lebih lanjut Imam menambahkan, pada tahun kedua, saat musim panen, tanaman kelengkeng akan mengalami peningkatan.

“Bisa memproduksi sekitar 100-130 kilogram per pohonnya. Apalagi harga kelengkeng sekarang, sudah mencapai Rp. 30 ribu per kilonya dari petani. Sudah bisa dibayangkan, berapa penghasilan petani,” kata Imam.

Selain itu, kedepannya terkait dengan adanya tanaman buah kelengkeng di wilayah pucak Rembangan dengan luasan 286 hektare, akan dijadikan eduwisata.

“Sebagai edukasi untuk peningkatan tanaman kelengkeng dan wisata petik buah kelengkeng secara langsung di agrowisata puncak Rembangan,” tutupnya. (*)

Tulisan ini berasal dari redaksi

Comment