Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Budaya

Makna Hari Keris Menurut Dr. Naghfir: Warisan Budaya yang Terus Dijaga di Tengah Perubahan Zaman

×

Makna Hari Keris Menurut Dr. Naghfir: Warisan Budaya yang Terus Dijaga di Tengah Perubahan Zaman

Sebarkan artikel ini
FOTO: Akademisi sekaligus pemerhati budaya Kabupaten Sumenep, Dr. Naghfir (berkopiah). (Ist/wartazone.com)
FOTO: Akademisi sekaligus pemerhati budaya Kabupaten Sumenep, Dr. Naghfir (berkopiah). (Ist/wartazone.com)
Example 468x60

SUMENEP, (WARTA ZONE) – Peringatan Hari Keris Nasional 2026 kembali menjadi momentum penting untuk mengingatkan masyarakat akan nilai historis dan budaya dari keris sebagai warisan leluhur bangsa Indonesia.

Dalam peringatan tersebut, akademisi sekaligus pemerhati budaya, Dr. Naghfir, menekankan bahwa keris bukan sekadar benda pusaka, melainkan simbol identitas yang mencerminkan perjalanan panjang peradaban Nusantara.

Example 300x600

“Keris memiliki makna yang sangat dalam. Ia merepresentasikan kekuatan, kejayaan, sekaligus harapan akan kemakmuran bangsa,” ujar Naghfir dalam keterangannya.

Ia menjelaskan, nilai-nilai filosofis yang terkandung dalam keris lahir dari kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun. Mulai dari proses pembuatan hingga bentuknya, setiap bagian keris sarat dengan simbol dan pesan moral.

Menurutnya, di tengah arus modernisasi, penting bagi generasi muda untuk tetap mengenal dan melestarikan keris sebagai bagian dari identitas nasional. Upaya pelestarian tidak hanya melalui koleksi atau pameran, tetapi juga melalui edukasi dan penguatan literasi budaya.

“Pelestarian keris harus dilakukan secara berkelanjutan, termasuk melalui pendidikan dan pengenalan sejak dini agar tidak tergerus zaman,” tambahnya.

Hari Keris Nasional sendiri menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan kesadaran publik terhadap pentingnya menjaga warisan budaya tak benda.

Selain itu, peringatan ini juga diharapkan mampu memperkuat rasa bangga masyarakat terhadap kekayaan budaya Indonesia.

Sejumlah kegiatan seperti pameran, diskusi budaya, hingga pertunjukan seni turut meramaikan peringatan tersebut, sekaligus menjadi ruang interaksi antara pelaku budaya, akademisi, dan masyarakat luas.

Dengan peringatan ini, keris diharapkan tidak hanya dipandang sebagai artefak masa lalu, tetapi juga sebagai simbol hidup yang terus relevan dalam membangun jati diri bangsa di masa kini dan masa depan. (*)

Example 300250
Example 120x600
FOTO: Penyerahan hadiah kepada para pemenang Madura Ethnic Carnival (MEC) 2026 dari kategori pelajar dan umum. (Ist/wartazone.com)
Budaya

Madura Ethnic Carnival (MEC) 2026 resmi menetapkan para pemenang dari kategori pelajar dan umum. Hasil penilaian tersebut dituangkan dalam Keputusan Dewan Juri MEC 2026 Nomor 01/SK-DJ/MEC/IX/2026 tentang Penetapan Pemenang MEC Tahun 2026. Sebanyak 12 peserta ditetapkan sebagai juara, masing-masing enam orang dari kategori pelajar dan enam orang dari kategori umum.

FOTO: Kemegahan panggung Madura Ethnic Carnival (MEC) 2026 di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, Sabtu (19/9/2026) malam.
Budaya

Madura Ethnic Carnival (MEC) 2026 tak sekadar menghadirkan parade busana dan pertunjukan budaya. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep, Jawa Timur, menjadikan gelaran tersebut sebagai salah satu ruang untuk mempromosikan kekayaan budaya sekaligus mendorong perputaran ekonomi masyarakat. MEC 2026 digelar di kawasan Keraton Sumenep, Sabtu (19/9/2026) malam, dengan mengangkat tema Keraton Sumenep. Sejumlah unsur sejarah dan kebudayaan keraton ditampilkan melalui kostum, parade, hingga pertunjukan seni.

FOTO: Sejumlah raja, sultan, pangeran, serta perwakilan kerajaan dan kesultanan Nusantara tampil dalam satu panggung Madura Ethnic Carnival (MEC) 2026 di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, Sabtu (19/9/2026) malam.
Budaya

Panggung Madura Ethnic Carnival (MEC) 2026 di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, Sabtu (19/9/2026) malam, menjadi ruang pertemuan budaya sejumlah kerajaan dan kesultanan dari berbagai daerah di Indonesia. Sejumlah raja, sultan, pangeran, serta perwakilan kerajaan dan kesultanan Nusantara tampil dalam satu panggung. Mereka mengikuti defile dengan diiringi para dayang yang mengenakan busana adat Keraton Sumenep.