SUMENEP, (WARTA ZONE) – Kegiatan talkshow bertema “Mendorong Kepercayaan Masyarakat Melalui Inklusi Keuangan BPR Syariah” yang digelar BPRS Bhakti Sumekar tak hanya menghadirkan diskusi sektor keuangan, tetapi juga menjadi ruang pelestarian budaya lokal melalui penampilan Tari Mowang Sangkal.
Tarian tradisional khas Sumenep tersebut dibawakan oleh Sanggar Pakoe Jokotole sebagai bagian dari rangkaian acara yang menghadirkan narasumber dari Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jawa Timur.
Penampilan Tari Mowang Sangkal menjadi daya tarik tersendiri di tengah agenda edukasi keuangan. Tarian ini dikenal sebagai simbol tolak bala yang sarat makna doa, perlindungan, dan harapan, yang tercermin dalam setiap gerakan penarinya.
Direktur Utama BPRS Bhakti Sumekar, Hairil Fajar, menjelaskan bahwa kehadiran tarian tersebut merupakan bentuk komitmen untuk tetap menjaga nilai-nilai budaya di tengah kegiatan modern.

“Penampilan Tari Mowang Sangkal sengaja kami hadirkan dari Sanggar Pakoe Jokotole, yang memiliki keterkaitan langsung dengan sejarah dan tradisi Keraton Sumenep. Semua yang ditampilkan tetap asli,” ujarnya.
Ia menambahkan, pelibatan sanggar yang memiliki garis keturunan langsung dari pencipta tari, almarhum Taufikurrahman, menjadi upaya menjaga keaslian dan keberlanjutan warisan budaya daerah.
Di sisi lain, Tari Mowang Sangkal bukan kali pertama tampil di panggung nasional. Tarian ini sebelumnya dipentaskan dalam sejumlah kegiatan, seperti Musyawarah Madya IV dan Rembuk Nasional Dewan Kerajaan Nasional pada 2025 di Sragen, serta Festival Seni Budaya Kerajaan Nusantara (FSBKN) 2024 di Keraton Surakarta Hadiningrat.

Melalui kolaborasi antara kegiatan literasi keuangan dan pertunjukan seni, BPRS Bhakti Sumekar dinilai turut menghadirkan pendekatan yang lebih inklusif, tidak hanya dalam aspek ekonomi, tetapi juga dalam pelestarian budaya lokal.
Kehadiran Tari Mowang Sangkal dalam forum tersebut menegaskan bahwa penguatan kepercayaan publik dapat berjalan beriringan dengan upaya menjaga identitas budaya daerah. (*)


Comment