SUMENEP, (WARTA ZONE) – Potensi musim kemarau yang lebih panjang akibat fenomena El Nino mendorong Pemerintah Kabupaten Sumenep meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi risiko kekeringan, terutama di wilayah kepulauan yang rentan terhadap keterbatasan air bersih.
Peringatan tersebut merujuk pada prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika yang menyebutkan adanya penurunan curah hujan di sejumlah wilayah Jawa Timur dalam beberapa waktu ke depan. Kondisi ini berpotensi memicu dampak lanjutan pada sektor pertanian, ketersediaan air bersih, hingga meningkatnya risiko kebakaran lahan.
Bupati Sumenep, Achmad Fauzi Wongsojudo, menyatakan, pemerintah daerah telah menyiapkan langkah antisipatif untuk meminimalkan dampak yang mungkin terjadi. Salah satu fokus utama adalah memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi saat musim kemarau mencapai puncaknya.
“Kami (Pemerintah Daerah) mulai memetakan wilayah yang berpotensi terdampak dan menyiapkan skenario penanganan, termasuk distribusi air bersih jika kondisi mengharuskan,” ujarnya, Kamis (23/4/2026).
Orang nomor satu di lingkungan Pemkab Sumenep ini menambahkan, peran masyarakat juga menjadi faktor penting dalam menghadapi situasi tersebut. Warga diminta lebih bijak dalam menggunakan air serta mulai melakukan langkah pencegahan secara mandiri di lingkungan masing-masing.
“Penggunaan air perlu dikendalikan sejak sekarang. Selain itu, masyarakat diharapkan mulai menyiapkan cadangan air untuk kebutuhan harian, khususnya di daerah yang selama ini rawan kekeringan,” katanya.
Di sektor pertanian, pemerintah daerah juga mendorong petani untuk menyesuaikan pola tanam dengan kondisi cuaca yang diprediksi lebih kering. Informasi prakiraan cuaca dari BMKG diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai acuan dalam menentukan waktu tanam dan jenis komoditas.
Menurut Bupati Fauzi, koordinasi lintas instansi terus dilakukan guna memastikan langkah mitigasi berjalan optimal. Ia menegaskan, kesiapsiagaan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat.
“Sinergi antara pemerintah dan masyarakat sangat diperlukan agar dampak kekeringan bisa ditekan semaksimal mungkin,” tuturnya. (*)


Comment