Jasmas HCML di Pulau Giliraja Tuai Kritik

0 Komentar
Reporter : Zainal Arifin

Foto: Lembaga Bahtera saat menggelar jaring aspirasi masyarakat (Jasmas) di desa Banmaleng, Pulau Giliraja, Kecamatan Giligenting Sumenep.

SUMENEP, (WARTA ZONE) – Husky Cnooc Madura Limited (HCML) melalui Lembaga Bahtera menggelar jaring aspirasi masyarakat (Jasmas) di 9 desa terdampak wilayah Kecamatan Giligenting dan Desa Lobuk, Kecamatan Bluto, Kabupaten Sumenep.

Berdasarkan jadwal, Jasmas tersebut digelar di desa terdampak pengeboran Migas HCML, meliputi Desa Lombang, Jate, Banbaru dan Banmaleng. Kemudian jaring aspirasi juga dilaksanakan di Aenganyar, Galis, Bringsang, Gedugan dan Desa Lobuk.

Namun belakangan, pelaksanaan Jasmas yang berlangsung di Desa Lombang pada Senin 3 April 2023 itu mendapat kritik tajam dari tokoh pemuda setempat, Slamet Readi. Dia mempertanyakan keseriusan HCML yang hanya diwakili oleh lembaga Bahtera.

“Harusnya dalam pelaksanaan Jasmas pihak HCML datang bertemu langsung dengan masyarakat, mereka harus benar-benar tahu apa yg menjadi keinginan masyarakat di bawah,” kata Slamet Readi, kepada media, saat dihubungi via telepon.

Baca Juga:  Bupati Sumenep Ajak BPRS Bhakti Sumekar Jual Sembako Murah, Langkah Nyata Bantu Tekan Inflasi

Apalagi, sambung Slamet, saat pelaksanaan jaring aspirasi, ada dana sebesar Rp 75 juta untuk setiap desa. Namun, tidak dijelaskan secara rinci dana tersebut bersumber darimana dan untuk kepentingan apa.

“Pertanyaannya, apakah masyarakat menginginkan proyek dari perusahaan atau menginginkan perusahaan bubar dari Giliraja,” ujarnya.

Sebab, kata Slamet, kucuran dana sebesar Rp 75 juta untuk masing-masing desa sangat tidak masuk akal dan tidak wajar dilakukan oleh HCML selagi perusahaan belum beroperasi.

“Status keberadaanya masih dipertanyakan oleh masyarakat, kok tiba-tiba ngasih dana,” kecamnya, menambahkan.

Hal senada disampaikan Dedes Syahputro, pria yang saat ini menjabat ketua IKA PMII Giliraja mengaku tidak habis pikir dengan langkah yang diambil oleh HCML memberikan kucuran dana sebesar Rp 75 juta.

“Ini ada apa kok bisa. Sedangkan masalah rumpon nelayan saja belum teratasi. Lah ini malah mau ngasih ke desa Rp 75 juta,” singgungnya.

Baca Juga:  Bupati Sumenep Minta OPD Maksimalkan Program Pembangunan Daerah

Untuk mendapat kejelasan terkait dengan polemik tersebut, media ini mencoba melakukan konfirmasi kepada Ketua Lembaga Bahtera selaku pendamping atau kepanjangan tangan HCML, Sahrul Gunawan.

Namun ia tidak bersedia memberikan keterangan. Dia malah menyuruh agar media langsung melakukan konfirmasi kepada pihak HCML.

Selanjutnya, pada Rabu 5 April 2023, media mencoba melakukan konfirmasi lanjutan kepada Manager Regional Office & Relations HCML, Hamim Tohari.

“Nanti biar mas ali yg berkomentar ya…karena beliau sekarang yg bertugas,” ujarnya saat dihubungi via percakapan WhatsApp.

Namun, hingga Jumat 7 April 2023 siang. Aliyuddin yang ditunjuk Manager Regional Office & Relations HCML Hamim Tohari untuk memberikan jawaban atas keluhan masyarakat di desa terdampak belum menghubungi media.

Sebab itu, media mencoba menghubungi yang bersangkutan. Sayang, hingga berita ini naik upaya konfirmasi media belum dijawab meski tanda lapor pesan terkirim sudah dibaca.

Baca Juga:  Lewat Raperda Keris di Sumenep, Mpu Ika Arista Cetuskan Ide Pusat Studi Tosan Aji

Sekadar informasi, HCML melalui Lembaga Berdaya Sejahtera (Bahtera) menggelar jaring aspirasi masyarakat (Jasmas) yang merupakan Program Pengembangan Masyarakat (PPM) SKK Migas – Husky Cnooc Madura Limited (HCML) tahun 2023.

Berdasarkan jadwal yang diterima media, pelaksanaan Jasmas berlangsung sejak Senin 3 April 2023 untuk dua desa yakni Desa Lombang dan Jate. Selanjutnya, pada hari Selasa 4 April 2023 kegiatan yang sama juga berlangsung di Desa Banbaru dan Banmaleng.

Pada Rabu 5 April 2023 kegiatan Jasmas berlangsung di empat desa sekaligus yakni Desa Aenganyar, Galis, Bringsang dan Desa Gedungan.

Untuk 8 desa tersebut masuk wilayah Kecamatan Giligenting. Jasmas ditutup pada hari Kamis 6 April 2023 di Desa Lobuk Kecamatan Bluto. (*)

Tulisan ini berasal dari redaksi

Comment