Tekan Penyebaran Penyakit LSD, Ini yang Dilakukan DKPP Sumenep

0 Komentar
Reporter : Panji Agira
Foto: Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Sumenep, Chainur Rasyid.

Foto: Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Sumenep, Chainur Rasyid.

SUMENEP, (WARTA ZONE) – Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Sumenep tengah melakukan langkah preventif untuk mengatasi merebaknya penyakit Lumpy Skin Disease (LSD) yang mengakibatkan kematian terhadap ternak.

Lumpy Skin Disease (LSD) atau cacar sapi merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus yang utamanya menyerang hewan sapi. Penyakit ini dicirikan dengan adanya benjolan pada kulit sapi.

Virus penyebab LSD termasuk dalam genus Capripoxvirus yang ditularkan melalui antropoda, terutama serangga penghisap darah (lalat, nyamuk, caplak), pakan dan air yang terkontaminasi, serta penularan langsung melalui saliva, sekresi hidung, dan air mani.

Baca Juga:  Kades Banbaru Turun ke Lapangan Voli, Temui Kaum Milenial Beri Edukasi Vaksin

Diketahui, LSD hanya menyerang sapi karena hewan tersebut merupakan spesies yang paling rentan tertular LSD virus (LSDV). Virus tersebut memiliki reseptor spesifik pada sel dalam tubuh sapi yang menyebabkan virus dapat masuk dan bereplikasi di dalam tubuh.

Kepala DKPP Sumenep, Chainur Rasyid menyampaikan, petugas kesehatan hewan sebanyak 30 personel yang terdiri dari 4 medis dan paramedis yang tersebar di seluruh Kecamatan di Kabupaten Sumenep sudah mengambil tindakan preventif.

“Petugas kami sudah melakukan sosialisasi dan penyuntikan vaksin kepada ternak,” terangnya, ditemui diruang kerjanya. Jum’at (15/03/2024).

Inong sapaan akrab Chainur Rasyid menambahkan, para petugas kesehatan hewan selain melakukan sosialisasi dan penyuntikan vaksin kepada ternak, yang terkena virus juga dilakukan bagi ternak yang belum terkena virus.

Baca Juga:  Bupati Sumenep Resmikan PLTD, Wujudkan Mimpi Warga Pulau Giliraja Terang

“Pemberian vaksin bertujuan untuk memberikan kekebalan terhadap ternak,” paparnya.

Menurut Inong, penyakit ini menyebabkan timbulnya benjolan atau bintik-bintik pada kulit hewan yang tertular. Yang diawali dengan bintik-bintik tersebut kecil dan keras, tetapi secara bertahap tumbuh ukurannya dan menjadi lembut serta berisi cairan.

“Kulit di atas bintik-bintik tersebut dapat menjadi merah, membengkak, dan akhirnya mengalami ulserasi, yang kemudian dapat menyebabkan infeksi bakteri sekunder,” katanya.

Untuk itu, peternak harus selalu menjaga lingkungan kandang ternak selalu bersih.

“Saat ini tren penyakit tersebut mulai landai terhadap sebaran virus LSD,” terangnya.

Baca Juga:  Terkendala Jaringan, PPS Desa Banmaleng Lakukan Sinkronisasi Data Pemilih di Pinggir Pantai

Menurutnya, vaksin untuk memperkuat imunitas, akan tetapi kata dia, pemilik ternak harus tetap menjaga asupan makanan dan menjaga lingkungan.

Untuk itu, ia mengimbau masyarakat apabila ada gejala segera melaporkan kepada petugas sehingga segera di lakukan pemeriksaan dan pengobatan.

“Vaksinasi merupakan langkah untuk membentengi virus yang ada saat ini,” pungkasnya. (*)

Tulisan ini berasal dari redaksi

Comment