SUMENEP, (WARTA ZONE) – Keputusan mengambil utang atau pembiayaan perlu dipertimbangkan secara matang. Masyarakat diingatkan agar tidak menjadikan pembiayaan sebagai cara untuk mengikuti tren atau memenuhi gaya hidup.
Pesan tersebut disampaikan BPRS Bhakti Sumekar melalui kampanye literasi keuangan bertajuk “Utangmu untuk Kebutuhan atau Gengsi?” dalam rangka Gerakan Nasional Cerdas Keuangan (GENCARKAN) 2026.
Direktur Utama BPRS Bhakti Sumekar, Hairil Fajar, mengatakan, pembiayaan pada dasarnya bukan sesuatu yang harus dihindari. Namun, penggunaannya perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan membayar.
“Utang bisa bermanfaat jika digunakan untuk kebutuhan penting atau kegiatan produktif. Yang perlu dihindari adalah berutang tanpa perhitungan,” kata Fajar, Rabu (19/8/2026).
Menurutnya, pembiayaan dapat digunakan untuk sejumlah kebutuhan yang memiliki manfaat, seperti pendidikan, kesehatan, modal usaha, maupun kebutuhan mendesak yang sudah direncanakan.
Sebaliknya, masyarakat perlu berhati-hati jika utang digunakan untuk membeli barang karena tren, berbelanja berlebihan, atau sekadar mengikuti gaya hidup.
Fajar juga meminta calon nasabah menghitung kemampuan membayar angsuran sebelum mengambil pembiayaan.
“Pastikan dulu tujuan berutang dan kemampuan membayar. Jangan sampai keputusan hari ini justru menjadi beban di kemudian hari,” ujarnya.
Melalui edukasi tersebut, BPRS Bhakti Sumekar mendorong masyarakat agar lebih memahami pengelolaan keuangan dan mampu membedakan antara kebutuhan yang penting dengan keinginan yang bersifat konsumtif.
Kampanye ini menjadi bagian dari dukungan terhadap Bulan Literasi Keuangan 2026 dan GENCARKAN 2026 yang mendorong masyarakat meningkatkan pemahaman mengenai pengelolaan keuangan secara bijak dan berkelanjutan. (*)














