Mengenal Tradisi Toron, Mudik Spesial Ala Orang Sumenep Madura

0 Komentar
Reporter : Panji Agira
Foto: Suasana arus mudik pada H-1 Lebaran di gerbang Jembatan Suramadu arah ke Madura. (Bisnis.com-Peni Widarti)

Foto: Suasana arus mudik pada H-1 Lebaran di gerbang Jembatan Suramadu arah ke Madura. (Bisnis.com-Peni Widarti)

SUMENEP, (WARTA ZONE) – Madura kaya akan budaya dan tradisi. Salah satunya yaitu saat hari raya Idul Fitri maupun Idul Adha terdapat tradisi ‘Toron‘ atau pulang kampung.

Tidak seperti masyarakat Indonesia pada umumnya. Jika mereka merantau di luar Madura, tradisi Toron atau mudik tak hanya pada momentum Idul Adha, lebaran Idul Fitri pun banyak dimanfaatkan masyarakat Madura, Sumenep pada khususnya untuk pulang ke kampung halaman guna merayakan lebaran bersama sanak keluarga.

Ibnu Hajar, budayawan asal Sumenep menerangkan, latar belakang kata Toron, atau yang akrab di masyarakat kekinian disebut mudik, adalah tradisi bagi para perantau asal Madura, Sumenep khususnya, yang pulang ke kampung halaman saat lebaran baik Idul Fitri maupun Idul Adha.

Baca Juga:  KLM Putri Kuning Karam Diduga Menabrak Tiang RIG Pengeboran HCML, Sang Ibu Ditemukan Sementara Si Anak Dalam Pencarian

“Kalau saya sendiri menyebutnya, budaya Toron, mudik atau pulang kampung saat hari raya, saya menyebutnya perjalanan cinta, kenapa? Ketika mereka pulang dari rantau bertemu keluarga, soan ke kuburan keluarga yang meninggal, bersilaturahim untuk saling memaafkan, itu memunculkan sebuah kebudayaan membangun mentalitas, solidaritas, menjunjung tinggi nilai kearifan lokal yang dimiliki masyarakat Madura dalam balutan cinta,” tuturnya.

Namun ada sisi buram dalam budaya Toron atau mudik, terkadang dimanfaatkan para perantau untuk pamer kesuksesan. Untuk itu pihaknya berpendapat agar dikembalikan pada esensi dari nilai mudik itu sendiri, yaitu diniatkan untuk merajut silaturahim dalam balutan kebersamaan.

“Semoga budaya mudik para perantau tidak dimanfaatkan hanya untuk menunjukkan kesusksesan di tanah rantau, tapi yang esensi adalah membangun silaturahim yang terputus karena jarak,” imbuhnya.

Baca Juga:  Bunyi Ketukan Aneh dari Dalam Bumi di Desa Moncek Tengah, Begini Penjelasan BPBD Sumenep

Perantau asal pulau Giliraja, Ach Azhari Al-Hafidzi mengaku tidak pernah absen untuk Toron atau mudik ke kampung halaman saat hari raya tiba, baik Idul Fitri maupun lebaran kurban.

Pengusaha toko kelontong ini menganggap, pulang kampung bagi perantau seperti dia dan rekan sejawatnya, menjadi obat melepas rindu kepada sanak famili di tanah kelahiran, karena saat lebaran lah semua keluarga akan berkumpul, menyambung silaturrahim sebagai tanda berkumpulnya jiwa dan raga.

“Alhamdulillah, setiap lebaran pasti kami sempatkan untuk Toron atau mudik, bersilaturahim dengan keluarga,” tuturnya melalui sambungan telepon kepada wartazone.com. Rabu (20 Maret 2024).

Baca Juga:  Pemkab Jember Sediakan Bus Gratis Untuk Mudik Bareng, Rute Jember-Madura

Diketahui, sebagai bentuk kepedulian Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep di bawah tangan dingin Bupati H. Achmad Fauzi untuk meringankan beban warga, kembali melaksanakan program mudik gratis Jakarta – Sumenep.

Berdasarkan jadwal, mudik gratis dalam rangka lebaran Idul Fitri 2024 akan berangkat pada Sabtu, 6 April 2024. Titik kumpul, parkir sisi timur Stadion Gelora Bung Karno (GBK) Jakarta. Finish, depan Pendopo Keraton Sumenep.

“Saya harap warga Sumenep yang bekerja di Jakarta dan sekitarnya dapat menikmati program mudik gratis ini bersama keluarga dengan penuh kegembiraan,” kata Bupati Sumenep, Achmad Fauzi Wongsojudo. ***

Tulisan ini berasal dari redaksi

Comment