Tim Gabungan Temukan Ratus Ribu Rokok Tanpa Cukai Beredar di Sumenep

0 Komentar
Reporter : Panji Agira

Foto: Satpol PP Sumenep bersama tim saat melakukan pengawasan peredaran rokok ilegal di sejumlah warung.

SUMENEP, (WARTA ZONE) – Satpol PP Sumenep menemukan ratusan ribu batang rokok ilegal yang beredar di sejumlah warung dan toko di Kabupaten Sumenep.

Satpol PP Sumenep bersama tim gabungan yang terdiri dari Dinas Koperasi, UKM dan Perindustrian, DPMPTSP dan Naker, Dinas Komunikasi dan Informatika, Bagian Hukum, serta Bagian Perekonomian Sekretariat Daerah Kabupaten (Setdakab) Sumenep, berhasil menghimpun sekitar 636 ribu batang rokok tanpa cukai atau ilegal dari sekitar 300 merk rokok yang berbeda.

“Ratusan batang rokok yang kami kumpulkan itu dikategorikan sebagai ilegal, di antaranya, cukainya salah peruntukan tidak dilekati pita cukai,” ungkap Kepala Satpol PP Sumenep, Ach. Laili Maulidi, Kamis (13/7/2023).

Baca Juga:  Masifnya Peredaran Rokok Ilegal, Dear Jatim Pertanyakan Kinerja Bea Cukai Madura

Menurut Laili, Sejak 5 Juni 2023, Tim Pemkab Sumenep, melakukan kegiatan pengumpulan informasi terkait peredaran rokok ilegal di Kota Keris. Hasilnya, ratusan ribu rokok ilegal berhasil diamankan.

Kegiatan tersebut direncanakan akan berlangsung hingga tanggal 27 Juli mendatang. “Kami targetkan sampai tanggal 27 Juli mendatang. Itu target kami. Tapi bisa maju, bisa mundur,” jelas Laili.

Laili menerangkan, rokok ilegal memiliki lima kriteria atau ciri-ciri yang dapat diidentifikasi, yaitu tidak dilekati pita cukai, dilekati pita cukai palsu, dilekati pita cukai yang bukan haknya atau salah personalisasi, dilekati pita cukai yang salah peruntukannya, dan dilekati pita cukai bekas.

Baca Juga:  Sumenep Job Fair 2022, Para Pencari Kerja Yuk Catat Tanggal Pelaksanaannya

“Informasi mengenai rokok ilegal yang berhasil kami kumpulkan langsung disampaikan kepada Bea Cukai melalui aplikasi bernama Siroleg (sistem informasi rokok ilegal),” imbuhnya.

Sementara mengenai tren peredaran rokok ilegal di kabupaten paling timur Pulau Madura ini, Laili tidak dapat menyebutkan secara pasti, apakah terjadi penurunan atau peningkatan dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Hal itu, sambung dia, karena pada tahun sebelumnya, tim hanya melakukan pengumpulan informasi sebanyak 16 kali, sedangkan tahun ini telah dilakukan sebanyak 30 kali.

“Jadi tidak bisa kami sebutkan secara pasti bagaimana trennya,” kata Laili, memungkasi. (*)

Tulisan ini berasal dari redaksi

Comment