Seorang Nenek di Jember Stroke Berat Tidak Dapat Layanan Kesehatan, Anggota Dewan Berang

0 Komentar
Reporter : Nur Imatus Safitri

Caption: Anggota Komisi D DPRD Jember Ardi Pujo Prabowo

JEMBER, (WARTA ZONE) – Nasib malang dialami Nenek Tomi (67) warga Dusun Wetan Gunung, Desa Wonojati, Kecamatan Jenggawah, Jember. Diketahui hanya bisa terkapar lemah di atas kasur lantai di rumahnya, akibat stroke berat yang dideritanya selama dua tahun lebih.

Anggota Komisi D DPRD Jember Ardi Pujo Prabowo yang mengetahui kabar tersebut langsung berkoordinasi dengan Kepala Dinsos dan Dinkes Jember.

Ardi mendesak dinas terkait agar Nenek Tomi segera mendapat penanganan dan perawatan di rumah sakit secara layak.

“Adanya kejadian ini sangat memperihatinkan. Mestinya rumah sakit ada toleransi, karena urgent dan bersifat darurat. Harusnya tidak boleh menolak pasien, apalagi sudah ada kepala desa bahkan camat yang memberikan garansi (jaminan) terkait perawatannya,” kata Ardi saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Sabtu (14/10/2023) siang.

Menurut Ardi, seluruh warga negara Indonesia wajib mendapat perhatian dari pemerintah. Terlebih jika warga tersebut dalam kondisi kurang mampu.

Baca Juga:  Demo PMII Jember Ricuh, Kritisi Pembahasan Revisi Perda RT/RW

“Karena seluruh warga negara itu memiliki hak yang sama. Untuk ditanggung kesehatannya oleh negara. Makanya dalam hal ini, adanya aplikasi J-Keren itu. Harusnya bisa menjadi salah satu aplikasi yang bermanfaat bagi masyarakat khususnya soal kesehatan,” ujar pria yang juga legislator dari Gerindra ini.

Terkait persoalan adminduk, lanjutnya, yang menjadi ganjalan bagi Nenek Tomi untuk mendapat pelayanan kesehatan. Kata Ardi, masih bisa menyusul.

“Apalagi soal adminduk, harusnya bisa disusulkan. Tidak kemudian tidak mendapat pelayanan perawatan, karena data adminduknya masih bermasalah,” tegasnya.

Terkait persoalan adminduk itu, pria yang juga bergerak di bidang kesehatan masyarakat ini menambahkan, nantinya akan berkoordinasi lintas komisi dengan yang membidangi.

“Kalau kami di Komisi D kan berkoordinasi serta bermitra dengan Dinsos dan Dinkes. Kami sudah berkomunikasi soal itu. Selanjutnya untuk Adminduk, karena di Komisi A. Nantinya kami akan berkoordinasi lanjut lintas komisi. Saya juga sudah komunikasi dengan Dirut RSD dr. Soebandi, ini harus terlayani dan tertangani pasien ini. Jadi tidak boleh ditelantarkan begini,” tandasnya.

Baca Juga:  NasDem Jember Daftarkan 50 Bacaleg, Emban Tugas Bawa Nama Anies Baswedan

Terpisah terkait kondisi yang dialami Nenek Tomi, Dirut RSD dr. Soebandi Jember dr. Lilik Lailiya mengatakan jika pihaknya memiliki program pelayanan kesehatan bagi masyarakat kurang mampu.

“Program sudah ada dari semua OPD. Ada PISPK (Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga), yang memantau kesehatan di wilayah oleh Puskesmas. Serta jika dibutukan rujukan yang perlu pelayanan di RS, kami siap 24 jam,” kata dokter Lilik.

Bagi masyarakat kurang mampu, lanjutnya, juga ada program soal kesehatan.

“Yang tidak mampu ada JPK (Jaminan Pemeliharaan Kesehatan). Terkait masalah adminduk, dari dispendukcapil pernah kami koordinasikan. Sehingga bisa datang melayani perekaman di rumah sakit,” tandasnya.

Sebelumnya diberitakan, nenek tua bernama Tomi (67) warga Dusun Wetan Gunung, Desa Wonojati, Kecamatan Jenggawah, Jember. Tampak lemah dan hanya terkapar di atas kasur beralaskan lantai di rumahnya.

Baca Juga:  Ribuan Ojol Unjuk Rasa Depan Pemkab Jember dan Gedung DPRD, Minta Kesetaraan Tarif

Nenek Tomi didiagnosa penyakit stroke berat, namun karena persoalan adminduk yang salah data, dan belum mendapat perbaikan.

Nenek Tomi hanya merasakan sakit hingga tubuhnya menyisakan kulit yang membungkus daging. Tidak bisa mendapat pelayanan kesehatan di rumah sakit.

Nenek Tomi menurut Kepala Desa Wonojati Abdurrahman, dulunya adalah pedagang sayur keliling.

Namun karena sakit, perempuan tua itupun dicerai oleh suaminya. Bahkan sang suami kini dikabarkan telah menikah lagi dengan perempuan lain.

Dibutuhkan pembaharuan data di adminduk karena statusnya cerai, dan ada kesalahan di adminduk soal jenis kelamin yang tertulis laki-laki. Karena persoalan adminduk itu belum selesai, Nenek Tomi hanya bisa pasrah dan menunggu uluran tangan perhatian dari masyarakat sekitar. (*)

Tulisan ini berasal dari redaksi

Comment